Kebahagiaan itu seperti udara. Dia tidak bisa dicari, tapi kita bisa merasakan kehadirannya. Karena dia selalu berada dekat dengan kita, andai saja kita bisa memahami setiap moment yang terjadi dalam hidup kita. Percaya ???
Siang itu Anita sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Menatap jauh ke depan. Tapi tatapannya kosong. Kesunyian waktu itu dipecahkan dengan adanya suara yang memanggil namanya.
“Anita, sedang apa kamu disana?” terdengar suara menyapanya. Ternyata Ibunya. “Apa yang kau pikirkan?”
Anita menoleh kesumber suara sambil berkata, “Nita lelah, Bu. Nita tidak habis pikir kenapa kebahagiaan itu begitu sulit untuk Nita dapatkan. Padahal Nita sudah hidup 20 tahun, tapi selama itu pula Nita belum bisa mendapatkan kebahagiaan yang utuh.”
Si Ibu tersenyum mendengarkan penuturan dari anaknya. Lalu ia berkata, “Anakku….. benarkah kamu belum merasakan kebahagiaan yang utuh ??”
Nita hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“Dan sekarang kamu ingin mendapatkan kebahagiaan itu secara utuh ??”
Sekali lagi Nita menjawab pertanyaan Ibunya dengan anggukan kepala.
“Anakku Anita, kalau begitu pergilah kamu ketaman di belakang rumah sekarang. Tangkapkanlah seekor kupu-kupu dengan tanganmu buat Ibu.”
Anita terlihat kebingungan mendengarkan ucapan Ibunya. Si Ibu kembali mengulang perkataannya, “Yaaaa………..tangkapkan Ibu seekor kupu-kupu dengan tanganmu.”
Perlahan Anita bangkit dan berjalan menuju taman di belakang rumahnya. Di taman itu memang banyak sekali kupu-kupu karena kebiasaan Ibunya yang senang merawat bunga.
Sesampainya di taman, Nita langsung mencari kupu-kupu, menangkapnya. Hup !! Lepas. Segera dikejarnya lagi kupu-kupu tadi.
Dia berlari kesana-kemari, merunduk, menerjang, merobek daun-daun, menggugurkan bunga-bunga yang sedang mekar. Gerakannya semakin tidak terkendali.
Sudah dua jam tapi belum ada tanda-tanda Anita akan mendapatkan kupu-kupu. Nafasnya mulai sesak, keringat sudah membanjiri tubuhnya. “Berhenti dulu Nak,” terdengar suara Ibunya menyuruhnya berhenti. Si Ibu berjalan perlahan menujunya. Tapi, lihatlah !! Sekumpulan kupu-kupu berterbangan mengelilinginya.
“Begitukah caramu menangkap kupu-kupu ?? Berlari dan menabrak benda-benda yang ada disekitarmu tanpa mempedulikannya ?? Si Ibu menatap anaknya. “Nak…… mencari kebahagiaan itu layaknya seperti menangkap kupu-kupu ini. Semakin kamu kejar dia akan semakin lari. Semakin kamu terjang dia akan pergi.”
“Tangkaplah kupu-kupu itu dengan hatimu. Karena kebahagiaan itu bukanlah benda yang dapat kamu genggam atau sesuatu yang dapat kamu simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu, telusuri dia dengan jiwamu. Maka dia tidak akan lari kemana-mana. Bahkan dia kan datang sendiri menghampirimu.”
Sang Ibu mengangkat tangan anaknya, hinggaplah seekor kupu-kupu dengan kepakan sayapnya yang indah. Setiap kepakan sayapnya mengalun mengikuti irama kebahagiaan bagi siapa yang mampu menyelaminya.
Sobat,,,,, benar mencari kebahagiaan itu layaknya menangkap kupu-kupu. Bisa saja kita menangkapnya dengan cara menerjang kesana-kemari, atau dengan berlari-lari. Tapi ingat, kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kita genggam atau kita simpan. Kebahagiaan itu seperti udara yang bisa kita rasakan keberdaannya dengan hati kita. Kita bisa mencium aromanya dengan jiwa kita. Kebahagiaan itu kita dapatkan dengan belajar. Belajar bahwa kebahagiaan itu sebenarnya telah ada dalam hati kita masing-masing.
Sobat,,,,, marilah kita temukan kebahagiaan itu dalam hati kita. Biarkan rasa itu tumbuh dan menetap dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah kita, dengan tenang, dengan kedamaian jiwa, dengan perlahan dan dengan ketulusan hati kita. Biarkan dia terus bersama kita dalam setiap kerja kita, hidup kita, dalam sedih, dalam gembira, dalam sepi dan dalam kermaian.
Bahagia itu ada dimana-mana. Mungkin saja dia selalu mengelilingi kita, namun mungkin kita saja yang terlalu acuh dan bersikap tidak peduli terhadapnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar