Kebahagiaan itu seperti udara. Dia tidak bisa dicari, tapi kita bisa merasakan kehadirannya. Karena dia selalu berada dekat dengan kita, andai saja kita bisa memahami setiap moment yang terjadi dalam hidup kita. Percaya ???
Siang itu Anita sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Menatap jauh ke depan. Tapi tatapannya kosong. Kesunyian waktu itu dipecahkan dengan adanya suara yang memanggil namanya.
“Anita, sedang apa kamu disana?” terdengar suara menyapanya. Ternyata Ibunya. “Apa yang kau pikirkan?”
Anita menoleh kesumber suara sambil berkata, “Nita lelah, Bu. Nita tidak habis pikir kenapa kebahagiaan itu begitu sulit untuk Nita dapatkan. Padahal Nita sudah hidup 20 tahun, tapi selama itu pula Nita belum bisa mendapatkan kebahagiaan yang utuh.”
Si Ibu tersenyum mendengarkan penuturan dari anaknya. Lalu ia berkata, “Anakku….. benarkah kamu belum merasakan kebahagiaan yang utuh ??”
Nita hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“Dan sekarang kamu ingin mendapatkan kebahagiaan itu secara utuh ??”
Sekali lagi Nita menjawab pertanyaan Ibunya dengan anggukan kepala.
“Anakku Anita, kalau begitu pergilah kamu ketaman di belakang rumah sekarang. Tangkapkanlah seekor kupu-kupu dengan tanganmu buat Ibu.”
Anita terlihat kebingungan mendengarkan ucapan Ibunya. Si Ibu kembali mengulang perkataannya, “Yaaaa………..tangkapkan Ibu seekor kupu-kupu dengan tanganmu.”
Perlahan Anita bangkit dan berjalan menuju taman di belakang rumahnya. Di taman itu memang banyak sekali kupu-kupu karena kebiasaan Ibunya yang senang merawat bunga.
Sesampainya di taman, Nita langsung mencari kupu-kupu, menangkapnya. Hup !! Lepas. Segera dikejarnya lagi kupu-kupu tadi.
Dia berlari kesana-kemari, merunduk, menerjang, merobek daun-daun, menggugurkan bunga-bunga yang sedang mekar. Gerakannya semakin tidak terkendali.
Sudah dua jam tapi belum ada tanda-tanda Anita akan mendapatkan kupu-kupu. Nafasnya mulai sesak, keringat sudah membanjiri tubuhnya. “Berhenti dulu Nak,” terdengar suara Ibunya menyuruhnya berhenti. Si Ibu berjalan perlahan menujunya. Tapi, lihatlah !! Sekumpulan kupu-kupu berterbangan mengelilinginya.
“Begitukah caramu menangkap kupu-kupu ?? Berlari dan menabrak benda-benda yang ada disekitarmu tanpa mempedulikannya ?? Si Ibu menatap anaknya. “Nak…… mencari kebahagiaan itu layaknya seperti menangkap kupu-kupu ini. Semakin kamu kejar dia akan semakin lari. Semakin kamu terjang dia akan pergi.”
“Tangkaplah kupu-kupu itu dengan hatimu. Karena kebahagiaan itu bukanlah benda yang dapat kamu genggam atau sesuatu yang dapat kamu simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu, telusuri dia dengan jiwamu. Maka dia tidak akan lari kemana-mana. Bahkan dia kan datang sendiri menghampirimu.”
Sang Ibu mengangkat tangan anaknya, hinggaplah seekor kupu-kupu dengan kepakan sayapnya yang indah. Setiap kepakan sayapnya mengalun mengikuti irama kebahagiaan bagi siapa yang mampu menyelaminya.
Sobat,,,,, benar mencari kebahagiaan itu layaknya menangkap kupu-kupu. Bisa saja kita menangkapnya dengan cara menerjang kesana-kemari, atau dengan berlari-lari. Tapi ingat, kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kita genggam atau kita simpan. Kebahagiaan itu seperti udara yang bisa kita rasakan keberdaannya dengan hati kita. Kita bisa mencium aromanya dengan jiwa kita. Kebahagiaan itu kita dapatkan dengan belajar. Belajar bahwa kebahagiaan itu sebenarnya telah ada dalam hati kita masing-masing.
Sobat,,,,, marilah kita temukan kebahagiaan itu dalam hati kita. Biarkan rasa itu tumbuh dan menetap dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah kita, dengan tenang, dengan kedamaian jiwa, dengan perlahan dan dengan ketulusan hati kita. Biarkan dia terus bersama kita dalam setiap kerja kita, hidup kita, dalam sedih, dalam gembira, dalam sepi dan dalam kermaian.
Bahagia itu ada dimana-mana. Mungkin saja dia selalu mengelilingi kita, namun mungkin kita saja yang terlalu acuh dan bersikap tidak peduli terhadapnya.
Minggu, 27 Desember 2009
BAHAGIA
Kebahagiaan itu seperti udara. Dia tidak bisa dicari, tapi kita bisa merasakan kehadirannya. Karena dia selalu berada dekat dengan kita, andai saja kita bisa memahami setiap moment yang terjadi dalam hidup kita. Percaya ???
Siang itu Anita sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Menatap jauh ke depan. Tapi tatapannya kosong. Kesunyian waktu itu dipecahkan dengan adanya suara yang memanggil namanya.
“Anita, sedang apa kamu disana?” terdengar suara menyapanya. Ternyata Ibunya. “Apa yang kau pikirkan?”
Anita menoleh kesumber suara sambil berkata, “Nita lelah, Bu. Nita tidak habis pikir kenapa kebahagiaan itu begitu sulit untuk Nita dapatkan. Padahal Nita sudah hidup 20 tahun, tapi selama itu pula Nita belum bisa mendapatkan kebahagiaan yang utuh.”
Si Ibu tersenyum mendengarkan penuturan dari anaknya. Lalu ia berkata, “Anakku….. benarkah kamu belum merasakan kebahagiaan yang utuh ??”
Nita hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“Dan sekarang kamu ingin mendapatkan kebahagiaan itu secara utuh ??”
Sekali lagi Nita menjawab pertanyaan Ibunya dengan anggukan kepala.
“Anakku Anita, kalau begitu pergilah kamu ketaman di belakang rumah sekarang. Tangkapkanlah seekor kupu-kupu dengan tanganmu buat Ibu.”
Anita terlihat kebingungan mendengarkan ucapan Ibunya. Si Ibu kembali mengulang perkataannya, “Yaaaa………..tangkapkan Ibu seekor kupu-kupu dengan tanganmu.”
Perlahan Anita bangkit dan berjalan menuju taman di belakang rumahnya. Di taman itu memang banyak sekali kupu-kupu karena kebiasaan Ibunya yang senang merawat bunga.
Sesampainya di taman, Nita langsung mencari kupu-kupu, menangkapnya. Hup !! Lepas. Segera dikejarnya lagi kupu-kupu tadi.
Dia berlari kesana-kemari, merunduk, menerjang, merobek daun-daun, menggugurkan bunga-bunga yang sedang mekar. Gerakannya semakin tidak terkendali.
Sudah dua jam tapi belum ada tanda-tanda Anita akan mendapatkan kupu-kupu. Nafasnya mulai sesak, keringat sudah membanjiri tubuhnya. “Berhenti dulu Nak,” terdengar suara Ibunya menyuruhnya berhenti. Si Ibu berjalan perlahan menujunya. Tapi, lihatlah !! Sekumpulan kupu-kupu berterbangan mengelilinginya.
“Begitukah caramu menangkap kupu-kupu ?? Berlari dan menabrak benda-benda yang ada disekitarmu tanpa mempedulikannya ?? Si Ibu menatap anaknya. “Nak…… mencari kebahagiaan itu layaknya seperti menangkap kupu-kupu ini. Semakin kamu kejar dia akan semakin lari. Semakin kamu terjang dia akan pergi.”
“Tangkaplah kupu-kupu itu dengan hatimu. Karena kebahagiaan itu bukanlah benda yang dapat kamu genggam atau sesuatu yang dapat kamu simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu, telusuri dia dengan jiwamu. Maka dia tidak akan lari kemana-mana. Bahkan dia kan datang sendiri menghampirimu.”
Sang Ibu mengangkat tangan anaknya, hinggaplah seekor kupu-kupu dengan kepakan sayapnya yang indah. Setiap kepakan sayapnya mengalun mengikuti irama kebahagiaan bagi siapa yang mampu menyelaminya.
Sobat,,,,, benar mencari kebahagiaan itu layaknya menangkap kupu-kupu. Bisa saja kita menangkapnya dengan cara menerjang kesana-kemari, atau dengan berlari-lari. Tapi ingat, kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kita genggam atau kita simpan. Kebahagiaan itu seperti udara yang bisa kita rasakan keberdaannya dengan hati kita. Kita bisa mencium aromanya dengan jiwa kita. Kebahagiaan itu kita dapatkan dengan belajar. Belajar bahwa kebahagiaan itu sebenarnya telah ada dalam hati kita masing-masing.
Sobat,,,,, marilah kita temukan kebahagiaan itu dalam hati kita. Biarkan rasa itu tumbuh dan menetap dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah kita, dengan tenang, dengan kedamaian jiwa, dengan perlahan dan dengan ketulusan hati kita. Biarkan dia terus bersama kita dalam setiap kerja kita, hidup kita, dalam sedih, dalam gembira, dalam sepi dan dalam kermaian.
Bahagia itu ada dimana-mana. Mungkin saja dia selalu mengelilingi kita, namun mungkin kita saja yang terlalu acuh dan bersikap tidak peduli terhadapnya.
Siang itu Anita sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Menatap jauh ke depan. Tapi tatapannya kosong. Kesunyian waktu itu dipecahkan dengan adanya suara yang memanggil namanya.
“Anita, sedang apa kamu disana?” terdengar suara menyapanya. Ternyata Ibunya. “Apa yang kau pikirkan?”
Anita menoleh kesumber suara sambil berkata, “Nita lelah, Bu. Nita tidak habis pikir kenapa kebahagiaan itu begitu sulit untuk Nita dapatkan. Padahal Nita sudah hidup 20 tahun, tapi selama itu pula Nita belum bisa mendapatkan kebahagiaan yang utuh.”
Si Ibu tersenyum mendengarkan penuturan dari anaknya. Lalu ia berkata, “Anakku….. benarkah kamu belum merasakan kebahagiaan yang utuh ??”
Nita hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“Dan sekarang kamu ingin mendapatkan kebahagiaan itu secara utuh ??”
Sekali lagi Nita menjawab pertanyaan Ibunya dengan anggukan kepala.
“Anakku Anita, kalau begitu pergilah kamu ketaman di belakang rumah sekarang. Tangkapkanlah seekor kupu-kupu dengan tanganmu buat Ibu.”
Anita terlihat kebingungan mendengarkan ucapan Ibunya. Si Ibu kembali mengulang perkataannya, “Yaaaa………..tangkapkan Ibu seekor kupu-kupu dengan tanganmu.”
Perlahan Anita bangkit dan berjalan menuju taman di belakang rumahnya. Di taman itu memang banyak sekali kupu-kupu karena kebiasaan Ibunya yang senang merawat bunga.
Sesampainya di taman, Nita langsung mencari kupu-kupu, menangkapnya. Hup !! Lepas. Segera dikejarnya lagi kupu-kupu tadi.
Dia berlari kesana-kemari, merunduk, menerjang, merobek daun-daun, menggugurkan bunga-bunga yang sedang mekar. Gerakannya semakin tidak terkendali.
Sudah dua jam tapi belum ada tanda-tanda Anita akan mendapatkan kupu-kupu. Nafasnya mulai sesak, keringat sudah membanjiri tubuhnya. “Berhenti dulu Nak,” terdengar suara Ibunya menyuruhnya berhenti. Si Ibu berjalan perlahan menujunya. Tapi, lihatlah !! Sekumpulan kupu-kupu berterbangan mengelilinginya.
“Begitukah caramu menangkap kupu-kupu ?? Berlari dan menabrak benda-benda yang ada disekitarmu tanpa mempedulikannya ?? Si Ibu menatap anaknya. “Nak…… mencari kebahagiaan itu layaknya seperti menangkap kupu-kupu ini. Semakin kamu kejar dia akan semakin lari. Semakin kamu terjang dia akan pergi.”
“Tangkaplah kupu-kupu itu dengan hatimu. Karena kebahagiaan itu bukanlah benda yang dapat kamu genggam atau sesuatu yang dapat kamu simpan. Carilah kebahagiaan itu dalam hatimu, telusuri dia dengan jiwamu. Maka dia tidak akan lari kemana-mana. Bahkan dia kan datang sendiri menghampirimu.”
Sang Ibu mengangkat tangan anaknya, hinggaplah seekor kupu-kupu dengan kepakan sayapnya yang indah. Setiap kepakan sayapnya mengalun mengikuti irama kebahagiaan bagi siapa yang mampu menyelaminya.
Sobat,,,,, benar mencari kebahagiaan itu layaknya menangkap kupu-kupu. Bisa saja kita menangkapnya dengan cara menerjang kesana-kemari, atau dengan berlari-lari. Tapi ingat, kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kita genggam atau kita simpan. Kebahagiaan itu seperti udara yang bisa kita rasakan keberdaannya dengan hati kita. Kita bisa mencium aromanya dengan jiwa kita. Kebahagiaan itu kita dapatkan dengan belajar. Belajar bahwa kebahagiaan itu sebenarnya telah ada dalam hati kita masing-masing.
Sobat,,,,, marilah kita temukan kebahagiaan itu dalam hati kita. Biarkan rasa itu tumbuh dan menetap dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah kita, dengan tenang, dengan kedamaian jiwa, dengan perlahan dan dengan ketulusan hati kita. Biarkan dia terus bersama kita dalam setiap kerja kita, hidup kita, dalam sedih, dalam gembira, dalam sepi dan dalam kermaian.
Bahagia itu ada dimana-mana. Mungkin saja dia selalu mengelilingi kita, namun mungkin kita saja yang terlalu acuh dan bersikap tidak peduli terhadapnya.
Rabu, 16 Desember 2009
Naluri
Sobat,,, gajah tidak pernah minta untuk berbelalai panjang dan jerapah pun juga tidak pernah minta untuk berleher panjang. Semua itu terjadi secara kodratnya. Semuanya alami berasal dari naluri pemberian dari Allah SWT. Siapa yang percaya akan kuasa Allah, dia pasti akan meyakini hal itu.
Saya jadi teringat sebuah cerita tentang kekuatan cinta. Disana dikatakan bahwa di sebuah daerah tinggallah dua suku, suku gunung dan suku lembah. Suatu ketika suku gunung menyerang suku lembah dan menjarah seluruh isi desa. Mereka juga menculik seorang bayi.
Penduduk suku lembah ingin mengambil kembali bayi itu, tapi mereka tidak tahu bagaimana cara memanjat gunung. Untuk itu dibagilah para prajurit desa dalam tiga kelompok. Prajurit pertama telah berusaha memanjat tebing gunung, tetapi baru beberapa kaki ketinggian, mereka sudah menyerah. Begitu juga dengan kelompok berikutnya. Tidak ada yang bisa menyelesaikan tugasnya.
Ketika mereka bersiap-siap hendak pulang, mereka melihat sang ibu bayi sedang menuruni tebing gunung dengan menggendong bayinya. Semua prajurit menjadi tercengang. Bagaimana cara ibu ini memanjat tebing yang mereka saja tidak bisa melakukannya.
Seorang prajurit menyambut kedatangan ibu itu dan bertanya, “Wahai ibu, kami gagal dalam mendaki gunung ini. Bagaimana engkau bisa melakukannya ?”
Sang ibu mengangkat bahu dan berkata, “Karena bayi itu bukanlah bayi kalian. Dan kalian belum pernah menjadi seorang ibu.”
Sobat,,, begitulah kekuatan sebuah naluri. Kekuatan naluri sang ibu lah yang bisa membuat sang ibu bisa mendapatkan kembali bayinya. Cinta seorang ibu adalah naluri yang alami, pemberian dari Allah SWT. Dan seorang ibu tidak pernah diajari untuk memiliki sifat itu. Semua terjadi secara alami. Rasa itu hadir dengan sendirinya. Kita pun bisa memiliki rasa itu. Jika kita mau untuk menuruti garis-garis yang telah ditentukan-Nya untuk kita.
Saya jadi teringat sebuah cerita tentang kekuatan cinta. Disana dikatakan bahwa di sebuah daerah tinggallah dua suku, suku gunung dan suku lembah. Suatu ketika suku gunung menyerang suku lembah dan menjarah seluruh isi desa. Mereka juga menculik seorang bayi.
Penduduk suku lembah ingin mengambil kembali bayi itu, tapi mereka tidak tahu bagaimana cara memanjat gunung. Untuk itu dibagilah para prajurit desa dalam tiga kelompok. Prajurit pertama telah berusaha memanjat tebing gunung, tetapi baru beberapa kaki ketinggian, mereka sudah menyerah. Begitu juga dengan kelompok berikutnya. Tidak ada yang bisa menyelesaikan tugasnya.
Ketika mereka bersiap-siap hendak pulang, mereka melihat sang ibu bayi sedang menuruni tebing gunung dengan menggendong bayinya. Semua prajurit menjadi tercengang. Bagaimana cara ibu ini memanjat tebing yang mereka saja tidak bisa melakukannya.
Seorang prajurit menyambut kedatangan ibu itu dan bertanya, “Wahai ibu, kami gagal dalam mendaki gunung ini. Bagaimana engkau bisa melakukannya ?”
Sang ibu mengangkat bahu dan berkata, “Karena bayi itu bukanlah bayi kalian. Dan kalian belum pernah menjadi seorang ibu.”
Sobat,,, begitulah kekuatan sebuah naluri. Kekuatan naluri sang ibu lah yang bisa membuat sang ibu bisa mendapatkan kembali bayinya. Cinta seorang ibu adalah naluri yang alami, pemberian dari Allah SWT. Dan seorang ibu tidak pernah diajari untuk memiliki sifat itu. Semua terjadi secara alami. Rasa itu hadir dengan sendirinya. Kita pun bisa memiliki rasa itu. Jika kita mau untuk menuruti garis-garis yang telah ditentukan-Nya untuk kita.
Cinto Sapasukuan
Orang minang terkenal dengan system kekerabatan matrilineal. Dengan begitu garis keturunan di minang menurut garis keturunan Ibu. Di minang terdapat bermacam-macam suku. Ada suku koto, piliang, caniago, melayu, bendang, dan lain-lain.
Jika bicara masalah suku, bagi orang minang kawin satu suku itu dilarang. Nah….. aku sebagai orang minang seharusnyalah menjalankan adat kami. Tapi malang nasibnya bagiku, jatuh cinta dengan orang yang punya suku sama denganku.
Kejadian pertama, waktu itu aku kelas dua SMA. Sudah pacaran, eh ujung-ujungnya harus putus gara-gara kami punya suku yang sama. Uh…..nggak kebayang dech kecewanya aku waktu itu, harus putus secara tiba-tiba. Bukan karena dia punya cewek baru, tapi karena dia itu ternyata mamakku. Huhu…..
Ternyata kejadian yang serupa terjadi lagi waktu aku baru masuk kuliah semester pertama. Aku hampir jadian lagi dengan orang yang punya suku sama denganku. Dan lagi-lagi aku harus rela lepasin dia karena suku kami yang sama. Padahal waktu itu dia sayang banget padaku, anaknya baik, pokoknya anaknya nyenangin banget dech. Huhu…….. JOMBLO LAGI DECH !!
Nah….sekarang kejadian lagi nich, aku dekat dengan seorang cowok yang ternyata lagi-lagi dan lagi punya suku yang sama denganku. Huhu…….kok selalu begini sich ??!! Tapi untung saja aku dan dia belum punya perasaan yang saling suka, masih sebatas teman. Tapi jujur, aku sedih juga. Karena dia itu tipe cowok idaman aku banget. Tapi ya gimana lagi,,, SENDIRI LAGI DECH !!
Oh mama………WHY ??? Kenapa aku harus mengalami kejadian yang serupa sampai tiga kali ?? Ma……aku pindah suku saja dech. Aku pindah ke suku papa. Bisa nggak ma ?? hehe…..(MANA BISA!!!!)
Yaaaach…..itulah adat di Minang, orang yang punya suku sama dianggap kerabat atau family kita. Jadi nggak boleh kawin satu suku. Hiks…..hiks…..
Yang malangnya, aku mengalami kejadian itu sampai tiga kali. Oh……mamak-mamak, tolong tenggangin donk, berdosakah jika suka dengan orang yang satu suku dengan kita ?? Tolong pikirkan ya…………..(hehe…..ngarap).
Terkadang segala sesuatu itu berjalan tidak sesuai dengan keinginan kita. Yaaah, setidaknya itulah yang sedang terjadi padaku. Disaat aku sedang menaruh perhatian kepadanya, ternyata dia hanya menganggap aku sebatas teman. Disaat aku kecewa dengan keputusan itu, dia tidak bisa melepasku. Disaat aku coba tegar terima kenyataan, dia mengatakan rasa suka padaku. Disaat aku terima perasaannya, eh ternyata dia mamakku. Walah-walaaaaah…… rumit toch !!
Tapi yach begitulah adat Minang. Nah….bagi pemuda-pemudi Minang yang lagi kasmaran atau jatuh cinta, lihat-lihat dulu lah. Atau tanya-tanya dulu lah suku pasangan kita. Nanti mana tahu kita sudah yakin dengannya tapi ternyata kita satu suku dengan pasangan kita. Sayang kan jika harus putus. Aku nggak mau kejadian yang aku alami juga terjadi pada teman-teman.
Tapi bagi yang pernah mengalami kejadian serupa denganku, aku harap jangan kecewa yach. Mungkin Allah telah menyiapkan seseorang yang lebih baik untuk kita.
Khey
Jika bicara masalah suku, bagi orang minang kawin satu suku itu dilarang. Nah….. aku sebagai orang minang seharusnyalah menjalankan adat kami. Tapi malang nasibnya bagiku, jatuh cinta dengan orang yang punya suku sama denganku.
Kejadian pertama, waktu itu aku kelas dua SMA. Sudah pacaran, eh ujung-ujungnya harus putus gara-gara kami punya suku yang sama. Uh…..nggak kebayang dech kecewanya aku waktu itu, harus putus secara tiba-tiba. Bukan karena dia punya cewek baru, tapi karena dia itu ternyata mamakku. Huhu…..
Ternyata kejadian yang serupa terjadi lagi waktu aku baru masuk kuliah semester pertama. Aku hampir jadian lagi dengan orang yang punya suku sama denganku. Dan lagi-lagi aku harus rela lepasin dia karena suku kami yang sama. Padahal waktu itu dia sayang banget padaku, anaknya baik, pokoknya anaknya nyenangin banget dech. Huhu…….. JOMBLO LAGI DECH !!
Nah….sekarang kejadian lagi nich, aku dekat dengan seorang cowok yang ternyata lagi-lagi dan lagi punya suku yang sama denganku. Huhu…….kok selalu begini sich ??!! Tapi untung saja aku dan dia belum punya perasaan yang saling suka, masih sebatas teman. Tapi jujur, aku sedih juga. Karena dia itu tipe cowok idaman aku banget. Tapi ya gimana lagi,,, SENDIRI LAGI DECH !!
Oh mama………WHY ??? Kenapa aku harus mengalami kejadian yang serupa sampai tiga kali ?? Ma……aku pindah suku saja dech. Aku pindah ke suku papa. Bisa nggak ma ?? hehe…..(MANA BISA!!!!)
Yaaaach…..itulah adat di Minang, orang yang punya suku sama dianggap kerabat atau family kita. Jadi nggak boleh kawin satu suku. Hiks…..hiks…..
Yang malangnya, aku mengalami kejadian itu sampai tiga kali. Oh……mamak-mamak, tolong tenggangin donk, berdosakah jika suka dengan orang yang satu suku dengan kita ?? Tolong pikirkan ya…………..(hehe…..ngarap).
Terkadang segala sesuatu itu berjalan tidak sesuai dengan keinginan kita. Yaaah, setidaknya itulah yang sedang terjadi padaku. Disaat aku sedang menaruh perhatian kepadanya, ternyata dia hanya menganggap aku sebatas teman. Disaat aku kecewa dengan keputusan itu, dia tidak bisa melepasku. Disaat aku coba tegar terima kenyataan, dia mengatakan rasa suka padaku. Disaat aku terima perasaannya, eh ternyata dia mamakku. Walah-walaaaaah…… rumit toch !!
Tapi yach begitulah adat Minang. Nah….bagi pemuda-pemudi Minang yang lagi kasmaran atau jatuh cinta, lihat-lihat dulu lah. Atau tanya-tanya dulu lah suku pasangan kita. Nanti mana tahu kita sudah yakin dengannya tapi ternyata kita satu suku dengan pasangan kita. Sayang kan jika harus putus. Aku nggak mau kejadian yang aku alami juga terjadi pada teman-teman.
Tapi bagi yang pernah mengalami kejadian serupa denganku, aku harap jangan kecewa yach. Mungkin Allah telah menyiapkan seseorang yang lebih baik untuk kita.
Khey
Pasir dan Batu
Sobat…. setiap kesedihan memang selalu sulit untuk dilupakan, karena dia begitu membekas dihati. Tapi alangkah baiknya jika lebih mengingat setiap kebahagiaan yang pernah datang pada kita. Lukiskan cerita bahagia itu agar tidak ada kesedihan yang tinggal didiri kita.
Setiap kita pasti punya cerita hidup masing-masing. Baik itu cerita kebahagiaan ataupun kesedihan. Aku teringat sebuah cerita dua orang pengembara dalam buku kekuatan cinta karya Irfan Toni Herlambang. Disana diceritakan bahwa dua orang pengembara yang sedang melintasi padang pasir. Di dalam perjalanannya datanglah badai, dimana badai ini membuat semua bekal mereka habis terbawa angin. Kantong air mereka terlepas tutupnya sehingga tumpahlah air di dalamnya. “Ah,,,, tamatlah riwayat kita,” kata si pengembara pertama. Lalu ia menulis di pasir dengan ujung jarinya, “Kami sedih, semua bekal kami habis di tempat ini.”
Pengembara kedua pun tampak bingung. Namun tetap berusaha tabah. Mereka melanjutkan perjalanannya. Setelah lama menyusuri perjalanan, mereka menemukan sebuah oase. “Kita selamat,” kata salah satu pengembara.
Dengan sisa tenaga yang mereka punya, berlarilah mereka ke tempat itu. Keduanya minum sepuas-puasnya dan mengisi kantong air mereka.
Sambil beristirahat, pengembara pertama mengeluarkan sebuah pisau dan memahat sebuah batu, “Kami bahagia. Kami dapat melanjutkan perjalanan karena menemukan tempat ini.”
Pengembara kedua pun jadi bingung. “Mengapa kini kau memahat di batu sementara tadi kau menulis di pasir ?”
Yang ditanya malah tersenyum dan menjawab, “Sebaiknya setiap kesedihan kita tulislah di atas pasir agar hilang terbawa angin, dan pahatlah setiap kebaikan di atas batu agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia. “
Sobat…. dari cerita di atas dapat kita petik pelajaran bahwa yang namanya kebahagiaan dan kesedihan akan selalu hadir. Berselang-seling mewarnai kehidupan. Namun, adakah kita bersikap seperti pengembara tadi ?? Adakah kita ini sosok yang tabah dalam menghadapi kesedihan hingga membiarkan angin membawanya terbang ??
Sobat, biarkanlah setiap kesedihan itu hilang dibawa angin. Dan jagalah setiap kebahagiaan itu dalam hati kita agar tidak ada yang bisa menghapuskannya. Insya Allah dengan begitu kita akan lebih tenang dan optimis dalam menjalani kehidupan.
Setiap kita pasti punya cerita hidup masing-masing. Baik itu cerita kebahagiaan ataupun kesedihan. Aku teringat sebuah cerita dua orang pengembara dalam buku kekuatan cinta karya Irfan Toni Herlambang. Disana diceritakan bahwa dua orang pengembara yang sedang melintasi padang pasir. Di dalam perjalanannya datanglah badai, dimana badai ini membuat semua bekal mereka habis terbawa angin. Kantong air mereka terlepas tutupnya sehingga tumpahlah air di dalamnya. “Ah,,,, tamatlah riwayat kita,” kata si pengembara pertama. Lalu ia menulis di pasir dengan ujung jarinya, “Kami sedih, semua bekal kami habis di tempat ini.”
Pengembara kedua pun tampak bingung. Namun tetap berusaha tabah. Mereka melanjutkan perjalanannya. Setelah lama menyusuri perjalanan, mereka menemukan sebuah oase. “Kita selamat,” kata salah satu pengembara.
Dengan sisa tenaga yang mereka punya, berlarilah mereka ke tempat itu. Keduanya minum sepuas-puasnya dan mengisi kantong air mereka.
Sambil beristirahat, pengembara pertama mengeluarkan sebuah pisau dan memahat sebuah batu, “Kami bahagia. Kami dapat melanjutkan perjalanan karena menemukan tempat ini.”
Pengembara kedua pun jadi bingung. “Mengapa kini kau memahat di batu sementara tadi kau menulis di pasir ?”
Yang ditanya malah tersenyum dan menjawab, “Sebaiknya setiap kesedihan kita tulislah di atas pasir agar hilang terbawa angin, dan pahatlah setiap kebaikan di atas batu agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia. “
Sobat…. dari cerita di atas dapat kita petik pelajaran bahwa yang namanya kebahagiaan dan kesedihan akan selalu hadir. Berselang-seling mewarnai kehidupan. Namun, adakah kita bersikap seperti pengembara tadi ?? Adakah kita ini sosok yang tabah dalam menghadapi kesedihan hingga membiarkan angin membawanya terbang ??
Sobat, biarkanlah setiap kesedihan itu hilang dibawa angin. Dan jagalah setiap kebahagiaan itu dalam hati kita agar tidak ada yang bisa menghapuskannya. Insya Allah dengan begitu kita akan lebih tenang dan optimis dalam menjalani kehidupan.
SUKA AJACH
Apa yang membuatku begitu tertarik untuk punya blog ?? Benarkah hanya karena membaca blog dari orang sehingga memacu aku untuk punya blog sendiri ?? Entahlah. Yang aku tahu saat ini, blog merupakan sahabat setiaku selain dari ketiga sahabatku di kampus. Terasa punya arti sendiri jika aku telah selesai menuangkan isi hati dan fikiranku dalam bentuk cerita. Seperti malam ini, meski jam di dinding kamarku sudah menunjukkan pukul satu malam, aku masih tetap asyik memainkan jari-jariku di keyboard ini.
Aku bukanlah seorang penulis yang baik. Ku akui itu !! Aku bukanlah seorang anak sastra yang tahu dengan seluk beluk menulis, aku hanyalah seorang anak Fakultas Peternakan Angkatan 08 di Universitas Andalas, kampus yang menjadi kebanggaanku.
Tapi kisah hidup yang ku jalani dari hari ke harilah yang membuatku semakin rajin untuk memainkan jari-jemariku di atas keyboard laptopku ini. Aku tidak mengharapkan orang akan senang, atau terharu dengan ceritaku. Bagiku menulis itu sebuah kegiatan baru yang aku senangi saat ini. Dengan bercerita di blog, aku bisa menumpahkan semua isi hati, jiwa dan nuraniku.
Meskipun begitu, aku terkadang terkesan ragu-ragu dan takut dalam menulis. Ragu-ragu karena saat menulis aku merasa tidak akan ada orang yang menganggap ceritaku. Takut karena merasa hal yang aku ceritakan akan ada menyinggung perasaan orang .
Dulunya aku tidak begitu suka diberi saran dari orang lain, namun saat ini aku sangat menantikan saran dari pembaca-pembaca blog ku. Bagiku kritik dan saran itu akan sangat berguna bagi kemajuanku dalam menulis.
Terbersit kesedihan dihatiku saat aku buka blogku tidak dikomentari oleh orang. Aku merasa bahwa tidak ada orang yang tertarik dengan ceritaku. Tapi aku selalu ingat dengan kata-kata Einstein. Dia bilang: “Jika anda telah gagal sepuluh ribu kali maka cobalah lagi barangkali pada yang ke sepuluh ribu satu kali anda berhasil.” Kata-kata itulah yang membuatku semakin lebih giat lagi dalam menulis cerita. Yaaaah, terkadang kita memang harus sangat optimis dalam menjalani hidup ini untuk mencapai kesuksesan.
Aku bukanlah seorang penulis yang baik. Ku akui itu !! Aku bukanlah seorang anak sastra yang tahu dengan seluk beluk menulis, aku hanyalah seorang anak Fakultas Peternakan Angkatan 08 di Universitas Andalas, kampus yang menjadi kebanggaanku.
Tapi kisah hidup yang ku jalani dari hari ke harilah yang membuatku semakin rajin untuk memainkan jari-jemariku di atas keyboard laptopku ini. Aku tidak mengharapkan orang akan senang, atau terharu dengan ceritaku. Bagiku menulis itu sebuah kegiatan baru yang aku senangi saat ini. Dengan bercerita di blog, aku bisa menumpahkan semua isi hati, jiwa dan nuraniku.
Meskipun begitu, aku terkadang terkesan ragu-ragu dan takut dalam menulis. Ragu-ragu karena saat menulis aku merasa tidak akan ada orang yang menganggap ceritaku. Takut karena merasa hal yang aku ceritakan akan ada menyinggung perasaan orang .
Dulunya aku tidak begitu suka diberi saran dari orang lain, namun saat ini aku sangat menantikan saran dari pembaca-pembaca blog ku. Bagiku kritik dan saran itu akan sangat berguna bagi kemajuanku dalam menulis.
Terbersit kesedihan dihatiku saat aku buka blogku tidak dikomentari oleh orang. Aku merasa bahwa tidak ada orang yang tertarik dengan ceritaku. Tapi aku selalu ingat dengan kata-kata Einstein. Dia bilang: “Jika anda telah gagal sepuluh ribu kali maka cobalah lagi barangkali pada yang ke sepuluh ribu satu kali anda berhasil.” Kata-kata itulah yang membuatku semakin lebih giat lagi dalam menulis cerita. Yaaaah, terkadang kita memang harus sangat optimis dalam menjalani hidup ini untuk mencapai kesuksesan.
Selasa, 08 Desember 2009
BAJU NYANGKUT
Biasa,,, ada-ada saja dalam satu hari itu masalah kecil yang ku perbesar-besar. Kebiasaan sich…. Alaaaah……………..kebisaan jelek saja dibanggakan
Bisa bayangkan nggak jika ujung baju kita nyangkut di tangkai pintu ?? Atau apa pernah mengalami ?? Terus, apa pemikiran yang ada dalam otak kita ?? Apakah itu satu pertanda ?? Buruk or baik ??
Tadi pagi bajuku nyangkut dipintu kamar, untung nggak robek. Kalau robek, bisa rugi bandar aku !! “Tuch baju aku beli di Singapura dengan cucur keringat ku sendiri, dengan cara banting tulang bela-belain jalan kaki dari Padang, mendaki gunung… lewati lembah… sungai mengalir indah di samudra bersama te…… “ eh stop-stop, kok malah nyanyi ninja hatori sich
Gara-gara tuch baju nyangkut, unjuk gigilah temanku si Rima, dia mulai mengeluarkan kata-katanya, “Weni…. , jika baju kita kita tersangkut di pintu, itu pertanda buruk . Kalau kata Ibu Rima itu artinya akan ada orang yang bermaksud jahat dengan kita ”, begitulah si Rima mulai memperingati aku.
Yaaa….. spontan saja aku jadi kaget, masa iya gara-gara baju nyangkut itu pertanda buruk . Sedikit tidak percaya, aku langsung mondar-mandir di sepanjang kamar kos untuk mulai menginterogasi kebenaran dari opini Rima tersebut.
Cari target pertama, Kak Delva !! Kebetulan orangnya ada di depan kamar, mulailah kuceritakan kejadian di TKP tadi. Eh si kakak malah menjawab, “Benar itu Wen. Tapi kakak sedikit berbeda, kalau setahu kakak itu artinya bahwa Weni akan menangis nantinya”.
Nah….. apa pula lah ini . Tidak puas dengan jawaban kak Delva, aku cari target kedua.
Helga !! Ku ceritakan lagi kejadian yang sama dan masih di TKP yang sama kapada Helga. Eh si Helga malah menjawab dengan jawaban yang jauh lebih berbeda, “Aduh beibs, itu artinya baju kamu itu suka dengan pintunya. Udah….. kawinkan saja mereka lagi ” begitulah jawabannya sambil tertawa dan berlalu dari hadapanku.
Sementara aku tinggal dengan ekspresi kebingungan dan seribu pertanyaan di otakku .
Tahu begini aku tidak bakal minta pendapat. Yang ada aku malah kesel sendiri dan was-was gara-gara perkataan Rima dan kak Delva.
Lagian nich baju, ngapain juga pakai acara nyangkut segala ???
Kayak nggak ada acara lain saja
Bisa bayangkan nggak jika ujung baju kita nyangkut di tangkai pintu ?? Atau apa pernah mengalami ?? Terus, apa pemikiran yang ada dalam otak kita ?? Apakah itu satu pertanda ?? Buruk or baik ??
Tadi pagi bajuku nyangkut dipintu kamar, untung nggak robek. Kalau robek, bisa rugi bandar aku !! “Tuch baju aku beli di Singapura dengan cucur keringat ku sendiri, dengan cara banting tulang bela-belain jalan kaki dari Padang, mendaki gunung… lewati lembah… sungai mengalir indah di samudra bersama te…… “ eh stop-stop, kok malah nyanyi ninja hatori sich
Gara-gara tuch baju nyangkut, unjuk gigilah temanku si Rima, dia mulai mengeluarkan kata-katanya, “Weni…. , jika baju kita kita tersangkut di pintu, itu pertanda buruk . Kalau kata Ibu Rima itu artinya akan ada orang yang bermaksud jahat dengan kita ”, begitulah si Rima mulai memperingati aku.
Yaaa….. spontan saja aku jadi kaget, masa iya gara-gara baju nyangkut itu pertanda buruk . Sedikit tidak percaya, aku langsung mondar-mandir di sepanjang kamar kos untuk mulai menginterogasi kebenaran dari opini Rima tersebut.
Cari target pertama, Kak Delva !! Kebetulan orangnya ada di depan kamar, mulailah kuceritakan kejadian di TKP tadi. Eh si kakak malah menjawab, “Benar itu Wen. Tapi kakak sedikit berbeda, kalau setahu kakak itu artinya bahwa Weni akan menangis nantinya”.
Nah….. apa pula lah ini . Tidak puas dengan jawaban kak Delva, aku cari target kedua.
Helga !! Ku ceritakan lagi kejadian yang sama dan masih di TKP yang sama kapada Helga. Eh si Helga malah menjawab dengan jawaban yang jauh lebih berbeda, “Aduh beibs, itu artinya baju kamu itu suka dengan pintunya. Udah….. kawinkan saja mereka lagi ” begitulah jawabannya sambil tertawa dan berlalu dari hadapanku.
Sementara aku tinggal dengan ekspresi kebingungan dan seribu pertanyaan di otakku .
Tahu begini aku tidak bakal minta pendapat. Yang ada aku malah kesel sendiri dan was-was gara-gara perkataan Rima dan kak Delva.
Lagian nich baju, ngapain juga pakai acara nyangkut segala ???
Kayak nggak ada acara lain saja
ANAK TUNGGAL
Pernah berfikir untuk jadi anak tunggal ??? Atau punya keinginan untuk merasakan bagaimana jadi anak tunggal ?? Atau mempunyai penilaian-penilaian sendiri tentang anak tunggal ??
Terlahir sebagai anak tunggal atau semata wayang tidaklah seindah yang dibayangkan banyak orang. Menurutku, terlahir sebagai anak semata wayang itu mempunyai banyak kekurangan daripada kelebihannya. Memang sudah lumrah kita ketahui bersama bahwa tak ada gading yang tak retak. Tidak ada yang sempurna di atas dunia ini. Segala sesuatu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Yaaahhh…. sama seperti anak tunggal. Hidupnya juga mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Aku mulai dari kekurangan:
1. Anak tunggal tidak mempunyai adik apalagi kakak yang biasa dijadikan oleh anak-anak lain sebagai tempat bercerita, tempat bersenda-gurau, tempat bertanya, bahkan tempat untuk saling pamer kelebihan, dan berantem.
Yang aku pikirkan bahwa anak-anak yang mempunyai adik, bisa meluapkan rasa kasih sayang terhadap adiknya. Bisa saling berbagi, bisa melatih dan mendidik jiwanya untuk menjadi pemimpin yang baik, karena secara tidak langsung akan menuntun dia untuk memberikan contoh yang baik pada adik-adiknya.
Sementara jika dia punya kakak, maka dia bisa belajar cara menghargai orang yang lebih tua darinya yang dimulai dari kalangan yang lebih kecil, yaitu dalam keluarganya.
2. Anak tunggal cenderung memiliki sifat yang egois.
Ini disebabkan karena anak tunggal terdidik dari kalangan yang lebih memperhatikan dirinya. Hal ini disebabkan karena keberadaannya yang semata wayang, sehingga dia selalu dijadikan patok pemikiran yang utama, baik itu oleh orang tuanya ataupun oleh orang-orang disekitarnya.
3. Sifat mandiri dan kedewasaan biasanya tumbuh lama.
Ini disebabkan karena anak tunggal terbiasa didampingi oleh orang tua.
Aku masih ingat kata-kata dari mamaku,”Tingkat kedewasaan seorang anak itu dipengaruhi oleh tiga faktor, pertama orang tersebut memang mempunyai pola pemikiran kedewasaan yang cepat, sesuai dengan pertambahan umur mereka menuju baligh; kedua pengalaman-pengalaman hidup yang datang menghampirinya, baik itu suka ataupun duka; ketiga pengaruh lingkungan. Semuanya itu akan berujung pada kemandirian anak tersebut. Orang yang cepat mandiri adalah orang yang mempunyai sifat kedewasaannya cepat”.
Sementara anak tunggal terbiasa dengan keadaan yang serba ada, terbiasa manja, terbiasa hidup senang dari orang tua dan orang-orang terdekat dengan mereka.
4. Anak tunggal tergolong lemah.
Hal ini disebabkan karena hidupnya yang terbiasa dimanja, sehingga dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya susah. Sifat manjanya itu yang membawanya pada kelemahan tanpa disadarinya.
Sedangkan kelebihannya :
1. Keberadaannya yang menjadi satu-satunya harapan orang-tuanya menjadikan dia mendapat perhatian yang penuh dari orang tuanya.
2. Perhatian yang penuh itu bisa terlihat dari pemenuhan kebutuhan dari anak tunggal sebagian besar umumnya tercukupi.
3. Anak tunggal mempunyai jiwa kasih sayang yang tinggi. Karena kebiasaan mereka yang selalu disayangi dan diperhatikan oleh orang tua dan orang-orang disekitarnya menjadikan dia tahu banyak cara memberikan kasih sayang dan perhatian pada orang lain.
4. Ada juga anak tunggal yang mempunyai jiwa yang keras dan kuat.
Maksudnya disini, keberadaannya di tengah-tengah keluarganya yang hanya semata wayang menjadikan dia berfikir dan menyadari bahwa sepenuhnya tanggung jawab ada padanya. Tanggung jawab disini bisa saja berbentuk tanggung jawab untuk membahagiakan orang tuanya. Bagaimana tidak, jika kita pikir secara logika saja, kemana lagi orang tuanya akan menggantungkan harapan jika tidak pada anaknya, apalagi jika anaknya hanya satu.
Itu seputar penilaian tentang menjadi anak tunggal menurutku. Meskipun banyak kekurangan dibanding dengan kelebihan, tapi kita harus tetap bersyukur terlahir menjadi anak tunggal. Karena apa ?? Karena kita menjadi anak yang mendapat perhatian yang penuh dari siapapun, apalagi orang tua. Kasih sayang yang belum tentu didapat oleh semua anak-anak lain. Meski tidak punya adik atau kakak, tapi bukan berarti tidak boleh punya kakak atau adik kan ?? Kita bisa saja memperoleh kakak dan adik dengan cara menganggap orang yang lebih besar dari kita sebagai kakak, dan yang lebih kecil dari kita sebagai adik. Yang penting, sebagai anak tunggal tidak boleh menjadikan kita sebagai orang yang egois, semena-mena, tapi jadikanlah sebagai anak yang baik dan berhati mulia, karena kita terlahir dari golongan orang tua yang sangat memperhatikankita.
Pernah berfikir untuk jadi anak tunggal ??? Atau punya keinginan untuk merasakan bagaimana jadi anak tunggal ?? Atau mempunyai penilaian-penilaian sendiri tentang anak tunggal ??
Terlahir sebagai anak tunggal atau semata wayang tidaklah seindah yang dibayangkan banyak orang. Menurutku, terlahir sebagai anak semata wayang itu mempunyai banyak kekurangan daripada kelebihannya. Memang sudah lumrah kita ketahui bersama bahwa tak ada gading yang tak retak. Tidak ada yang sempurna di atas dunia ini. Segala sesuatu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Yaaahhh…. sama seperti anak tunggal. Hidupnya juga mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Aku mulai dari kekurangan:
1. Anak tunggal tidak mempunyai adik apalagi kakak yang biasa dijadikan oleh anak-anak lain sebagai tempat bercerita, tempat bersenda-gurau, tempat bertanya, bahkan tempat untuk saling pamer kelebihan, dan berantem.
Yang aku pikirkan bahwa anak-anak yang mempunyai adik, bisa meluapkan rasa kasih sayang terhadap adiknya. Bisa saling berbagi, bisa melatih dan mendidik jiwanya untuk menjadi pemimpin yang baik, karena secara tidak langsung akan menuntun dia untuk memberikan contoh yang baik pada adik-adiknya.
Sementara jika dia punya kakak, maka dia bisa belajar cara menghargai orang yang lebih tua darinya yang dimulai dari kalangan yang lebih kecil, yaitu dalam keluarganya.
2. Anak tunggal cenderung memiliki sifat yang egois.
Ini disebabkan karena anak tunggal terdidik dari kalangan yang lebih memperhatikan dirinya. Hal ini disebabkan karena keberadaannya yang semata wayang, sehingga dia selalu dijadikan patok pemikiran yang utama, baik itu oleh orang tuanya ataupun oleh orang-orang disekitarnya.
3. Sifat mandiri dan kedewasaan biasanya tumbuh lama.
Ini disebabkan karena anak tunggal terbiasa didampingi oleh orang tua.
Aku masih ingat kata-kata dari mamaku,”Tingkat kedewasaan seorang anak itu dipengaruhi oleh tiga faktor, pertama orang tersebut memang mempunyai pola pemikiran kedewasaan yang cepat, sesuai dengan pertambahan umur mereka menuju baligh; kedua pengalaman-pengalaman hidup yang datang menghampirinya, baik itu suka ataupun duka; ketiga pengaruh lingkungan. Semuanya itu akan berujung pada kemandirian anak tersebut. Orang yang cepat mandiri adalah orang yang mempunyai sifat kedewasaannya cepat”.
Sementara anak tunggal terbiasa dengan keadaan yang serba ada, terbiasa manja, terbiasa hidup senang dari orang tua dan orang-orang terdekat dengan mereka.
4. Anak tunggal tergolong lemah.
Hal ini disebabkan karena hidupnya yang terbiasa dimanja, sehingga dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya susah. Sifat manjanya itu yang membawanya pada kelemahan tanpa disadarinya.
Sedangkan kelebihannya :
1. Keberadaannya yang menjadi satu-satunya harapan orang-tuanya menjadikan dia mendapat perhatian yang penuh dari orang tuanya.
2. Perhatian yang penuh itu bisa terlihat dari pemenuhan kebutuhan dari anak tunggal sebagian besar umumnya tercukupi.
3. Anak tunggal mempunyai jiwa kasih sayang yang tinggi. Karena kebiasaan mereka yang selalu disayangi dan diperhatikan oleh orang tua dan orang-orang disekitarnya menjadikan dia tahu banyak cara memberikan kasih sayang dan perhatian pada orang lain.
4. Ada juga anak tunggal yang mempunyai jiwa yang keras dan kuat.
Maksudnya disini, keberadaannya di tengah-tengah keluarganya yang hanya semata wayang menjadikan dia berfikir dan menyadari bahwa sepenuhnya tanggung jawab ada padanya. Tanggung jawab disini bisa saja berbentuk tanggung jawab untuk membahagiakan orang tuanya. Bagaimana tidak, jika kita pikir secara logika saja, kemana lagi orang tuanya akan menggantungkan harapan jika tidak pada anaknya, apalagi jika anaknya hanya satu.
Itu seputar penilaian tentang menjadi anak tunggal menurutku. Meskipun banyak kekurangan dibanding dengan kelebihan, tapi kita harus tetap bersyukur terlahir menjadi anak tunggal. Karena apa ?? Karena kita menjadi anak yang mendapat perhatian yang penuh dari siapapun, apalagi orang tua. Kasih sayang yang belum tentu didapat oleh semua anak-anak lain. Meski tidak punya adik atau kakak, tapi bukan berarti tidak boleh punya kakak atau adik kan ?? Kita bisa saja memperoleh kakak dan adik dengan cara menganggap orang yang lebih besar dari kita sebagai kakak, dan yang lebih kecil dari kita sebagai adik. Yang penting, sebagai anak tunggal tidak boleh menjadikan kita sebagai orang yang egois, semena-mena, tapi jadikanlah sebagai anak yang baik dan berhati mulia, karena kita terlahir dari golongan orang tua yang sangat memperhatikankita.
Senin, 07 Desember 2009
FrenShip
Pernah mikirin arti persahabatan yang sebenarnya nggak ?? Atau pernah mikirin tentang berapa pentingnya sahabat itu bagi kita ?? Atau…… pernah berfikir, “Apakah saya sudah pernah memiliki sahabat ???”
Percaya dech,,, yang namanya punya sahabat itu menyenangkan banget. Percaya ?? Harus percaya !! Tapi masalahnya, “Apakah masih ada yang namanya sahabat saat ini ???” Itukan pertanyaan yang banyak mengganjal dihati dan fikiran kita.
Aku mau menuliskan satu goresan singkat tentang sahabat menurutku,
Sahabat…… hiasi suka dalam duka
Sahabat…. hadirnya begitu berharga
Sahabat itu bukan hanya teman saat kita tertawa, tapi juga saat kita berduka
Sahabat itu juga bukan hanya orang kedua setelah orang tua kita, tapi dia juga anggota tubuh kita
Dimana ada sahabat, disanalah adalah kita
Karena kita adalah bagaian dari sahabat yang setia……
Untuk mendapatkan sahabat yang benar-benar sahabat saat ini ibarat mencari mencari jarum dalam jerami, susah sekali . Harus kita akui, jika teman untuk tertawa, berbagi suka atau senangnya saja, dalam waktu yang sebentar kita sudah mendapatkannya. Sebaliknya, teman yang benar-benar bisa kita percayai untuk berbagi cerita, yang bisa merasakan kesusahan kita, yang turut berduka saat kita menangis, itu susah sangat.
Tapi meskipun demikian, bukan berarti kita tidak bisa mendapatkan sahabat. Seperti yang aku alami, aku baru bisa mengerti arti sahabat itu ketika aku memakai seragam putih abu-abu. Tepatnya waktu aku SMA. Awal masuk SMA, aku menadapatkan dua orang sahabat, Citra dan Yorri.
Persahabatan yang kami bina bersama berjalan dengan baik, meski ada rintangan-rintangan tapi tetap bisa kami lewati dengan menjadikan satiap masalah adalah suatu fase menuju tahap kedewasaan. Harus aku akui, selain diantara mereka berdua akulah yang bertubuh paling kecil, tinggi paling pendek (huhuhu )
Yorri, meski usianya baru 16 tapi dia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang salah. Ini terbukti dari setiap dia menanggapi apa-apa sikap aku. Jika aku benar, dia akan mendukung. Dan jika aku salah, dia akan menegur dan menasehati jalan yang seharusnya aku ambil. Begitu juga saat aku dimarahi oleh orangtuaku, dia jugalah yang selalu rajin mengatakan padaku, “Weni, tidak ada orangtua di dunia ini yang tidak ingin melihat anaknya bahagia, maka wajar saja jika orangtua kita marah pada kita jika kita melakukan kesalahan. Itu tandanya orangtua kita sayang pada kita”, begitulah ajarannya setiap kali aku mengeluh jika dimarahi oleh mama atau papaku.
Dan Citra, seorang anak yang bisa dikatakan samalah denganku. Masih bersifat anak-anak, tapi kadar kekanak-kanakannnya sedikit kurang dariku. Dia anak semata wayang dalam keluarganya. Satu yang selalu aku senangi dari dia, dia selalu bisa buat aku tersenyum disaat aku lagi bersedih . Dia juga yang selalu memberikan kepercayaan padaku, saat aku mendapati keraguan dalam suatu masalah dia selalu berkata, “Weni, Cit yakin Weni pasti bisa. Masa itu saja sudah meyerah…” itulah kata-kata darinya yang selalu buat aku bangkit jika sudah mengalami dilema. Citra juga seorang cewek yang bisa dikatakan lunak, jiak kita diarahkan ke A dia akan bilang A, jika disuruh B dia juga akan bilang B. Tapi itulah citra dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dia punya.
Persahabatan yang kami miliki tetap berlanjut hingga tamat SMA. Yaaaa…… meski harus aku akui, terkadang ada rasa jenuh dalam jiwa berteman dengan itu-itu saja, itu jugalah yang membawa aku bergabung dengan genk lain. Tapi harus aku akui juga, jika aku masuk dalam genk yang lain, pasti mereka berdua itu juga tetap ada dalam genk itu. So….kami bertiga nggak terpisahkan gitu. Hahahaha………lebay .
Nah….. sekarang, saat kuliah aku juga punya dua orang sahabat dekat lagi, masih cewek juga, Ana dan Ani. Haaaaaah ?? Kembar yach ??? Bukan,,,, mereka bukan anak kembar. Cuma nama panggilannya saja yang hamper sama. Tapi kalau nama panjangnya beda, kalau Ana nama poanjangnya Ana Noveria, sementara Ani nama panjangnya Khairani. Beda banget kan ???
Sifat Ana dan Ani tidak berbeda dengan Yorri dan Citra. Saat aku ada masalah mereka selalu berusaha buat ngertiin aku dan mencarikan jalan keluarnya. Aku merasa nyaman sekali dekat mereka. Kami tertawa bareng dan sedih satu juga sedih semuanya.
Persahabatan yang kami bina sama-sama sejak awal kuliah dulu sampai saat ini masih berjalan dengan baik-baiknya, mulai menambahkan anggota satu cowok. Hehe…… anggota. Namanya Rodea, tapi sering dipanggil Ode. Eh belakangan di FB-nya dia malah buat nama panggilan baru lagi, Dea Imoutz….. wakakakkak……. Ode….Ode…… ada-ada saja.
Nah bagaimana pula si Ode ini ?? Dia itu beda dengan Ana Ani, jika Ana seorang cewek dewasa, chubi, manis, dan Ani seorang anak yang lembut, dan baik. Beda dengan Ode, anak yang pintar, blak-blakkan, tapi…………….. suka banget jahilin aku, jengkelin banget, suka buat aku sebel, suka ngetawain aku, lebay juga, huuuuuuuuuuuuhhhhhhh…………… bisa marah campur ketawa dech aku jika ingat tuch anak !! Namanya juga manusia, nggak ada yang sempurna. Itulah Ode dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Inilah foto aku dengan kedua sahabatku
Nah….. yang diatas itu foto aku bareng kedua sahabat aku, Ana dan Ani. Ana yang memakai jilbab abu-abu dan Ani yang pakai jilbab pink. Aku mana ??? hehe, promosi banget. Nah…..loh…..Ode-nya mana ??? Buat Ode dan semua yang baca, aku minta maaf karena fotonya Ode bareng kami bertiga belum ada. Soalnya selain anak baru, dia juga sich yang nggak mau ikutan foto bareng kami. Katanya minder foto sama orang-orang manis. Hahahaha……. Ngibul berat. Peace de…..
Bagaimana menurut pendapat teman-teman yang lain tentang persahabatan aku ?? Baik atau……. Biasa saja ?? Jika baik, aku minta doakan semoga begitu selalu dan semakin lebih baik. Tapi jika biasa saja, aku juga minta doakan semoga menjadi baik. Yeeee………………..…….minta semua !! Kamu pikir ada yang gratis ???
Buat teman-teman yang juga punya sahabat, pesanku….. tetaplah jaga persahabatan kalian, carilah arti dari kehadiran sahabat bagi kita. Bagi yang belum pernah mendapatkan sahabat, aku juga mau bilang, “Jika kita belum mendapatkan sahabat yang baik, tetaplah jadi sahabat yang baik untuk orang lain”.
Percaya dech,,, yang namanya punya sahabat itu menyenangkan banget. Percaya ?? Harus percaya !! Tapi masalahnya, “Apakah masih ada yang namanya sahabat saat ini ???” Itukan pertanyaan yang banyak mengganjal dihati dan fikiran kita.
Aku mau menuliskan satu goresan singkat tentang sahabat menurutku,
Sahabat…… hiasi suka dalam duka
Sahabat…. hadirnya begitu berharga
Sahabat itu bukan hanya teman saat kita tertawa, tapi juga saat kita berduka
Sahabat itu juga bukan hanya orang kedua setelah orang tua kita, tapi dia juga anggota tubuh kita
Dimana ada sahabat, disanalah adalah kita
Karena kita adalah bagaian dari sahabat yang setia……
Untuk mendapatkan sahabat yang benar-benar sahabat saat ini ibarat mencari mencari jarum dalam jerami, susah sekali . Harus kita akui, jika teman untuk tertawa, berbagi suka atau senangnya saja, dalam waktu yang sebentar kita sudah mendapatkannya. Sebaliknya, teman yang benar-benar bisa kita percayai untuk berbagi cerita, yang bisa merasakan kesusahan kita, yang turut berduka saat kita menangis, itu susah sangat.
Tapi meskipun demikian, bukan berarti kita tidak bisa mendapatkan sahabat. Seperti yang aku alami, aku baru bisa mengerti arti sahabat itu ketika aku memakai seragam putih abu-abu. Tepatnya waktu aku SMA. Awal masuk SMA, aku menadapatkan dua orang sahabat, Citra dan Yorri.
Persahabatan yang kami bina bersama berjalan dengan baik, meski ada rintangan-rintangan tapi tetap bisa kami lewati dengan menjadikan satiap masalah adalah suatu fase menuju tahap kedewasaan. Harus aku akui, selain diantara mereka berdua akulah yang bertubuh paling kecil, tinggi paling pendek (huhuhu )
Yorri, meski usianya baru 16 tapi dia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang salah. Ini terbukti dari setiap dia menanggapi apa-apa sikap aku. Jika aku benar, dia akan mendukung. Dan jika aku salah, dia akan menegur dan menasehati jalan yang seharusnya aku ambil. Begitu juga saat aku dimarahi oleh orangtuaku, dia jugalah yang selalu rajin mengatakan padaku, “Weni, tidak ada orangtua di dunia ini yang tidak ingin melihat anaknya bahagia, maka wajar saja jika orangtua kita marah pada kita jika kita melakukan kesalahan. Itu tandanya orangtua kita sayang pada kita”, begitulah ajarannya setiap kali aku mengeluh jika dimarahi oleh mama atau papaku.
Dan Citra, seorang anak yang bisa dikatakan samalah denganku. Masih bersifat anak-anak, tapi kadar kekanak-kanakannnya sedikit kurang dariku. Dia anak semata wayang dalam keluarganya. Satu yang selalu aku senangi dari dia, dia selalu bisa buat aku tersenyum disaat aku lagi bersedih . Dia juga yang selalu memberikan kepercayaan padaku, saat aku mendapati keraguan dalam suatu masalah dia selalu berkata, “Weni, Cit yakin Weni pasti bisa. Masa itu saja sudah meyerah…” itulah kata-kata darinya yang selalu buat aku bangkit jika sudah mengalami dilema. Citra juga seorang cewek yang bisa dikatakan lunak, jiak kita diarahkan ke A dia akan bilang A, jika disuruh B dia juga akan bilang B. Tapi itulah citra dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dia punya.
Persahabatan yang kami miliki tetap berlanjut hingga tamat SMA. Yaaaa…… meski harus aku akui, terkadang ada rasa jenuh dalam jiwa berteman dengan itu-itu saja, itu jugalah yang membawa aku bergabung dengan genk lain. Tapi harus aku akui juga, jika aku masuk dalam genk yang lain, pasti mereka berdua itu juga tetap ada dalam genk itu. So….kami bertiga nggak terpisahkan gitu. Hahahaha………lebay .
Nah….. sekarang, saat kuliah aku juga punya dua orang sahabat dekat lagi, masih cewek juga, Ana dan Ani. Haaaaaah ?? Kembar yach ??? Bukan,,,, mereka bukan anak kembar. Cuma nama panggilannya saja yang hamper sama. Tapi kalau nama panjangnya beda, kalau Ana nama poanjangnya Ana Noveria, sementara Ani nama panjangnya Khairani. Beda banget kan ???
Sifat Ana dan Ani tidak berbeda dengan Yorri dan Citra. Saat aku ada masalah mereka selalu berusaha buat ngertiin aku dan mencarikan jalan keluarnya. Aku merasa nyaman sekali dekat mereka. Kami tertawa bareng dan sedih satu juga sedih semuanya.
Persahabatan yang kami bina sama-sama sejak awal kuliah dulu sampai saat ini masih berjalan dengan baik-baiknya, mulai menambahkan anggota satu cowok. Hehe…… anggota. Namanya Rodea, tapi sering dipanggil Ode. Eh belakangan di FB-nya dia malah buat nama panggilan baru lagi, Dea Imoutz….. wakakakkak……. Ode….Ode…… ada-ada saja.
Nah bagaimana pula si Ode ini ?? Dia itu beda dengan Ana Ani, jika Ana seorang cewek dewasa, chubi, manis, dan Ani seorang anak yang lembut, dan baik. Beda dengan Ode, anak yang pintar, blak-blakkan, tapi…………….. suka banget jahilin aku, jengkelin banget, suka buat aku sebel, suka ngetawain aku, lebay juga, huuuuuuuuuuuuhhhhhhh…………… bisa marah campur ketawa dech aku jika ingat tuch anak !! Namanya juga manusia, nggak ada yang sempurna. Itulah Ode dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Inilah foto aku dengan kedua sahabatku
Nah….. yang diatas itu foto aku bareng kedua sahabat aku, Ana dan Ani. Ana yang memakai jilbab abu-abu dan Ani yang pakai jilbab pink. Aku mana ??? hehe, promosi banget. Nah…..loh…..Ode-nya mana ??? Buat Ode dan semua yang baca, aku minta maaf karena fotonya Ode bareng kami bertiga belum ada. Soalnya selain anak baru, dia juga sich yang nggak mau ikutan foto bareng kami. Katanya minder foto sama orang-orang manis. Hahahaha……. Ngibul berat. Peace de…..
Bagaimana menurut pendapat teman-teman yang lain tentang persahabatan aku ?? Baik atau……. Biasa saja ?? Jika baik, aku minta doakan semoga begitu selalu dan semakin lebih baik. Tapi jika biasa saja, aku juga minta doakan semoga menjadi baik. Yeeee………………..…….minta semua !! Kamu pikir ada yang gratis ???
Buat teman-teman yang juga punya sahabat, pesanku….. tetaplah jaga persahabatan kalian, carilah arti dari kehadiran sahabat bagi kita. Bagi yang belum pernah mendapatkan sahabat, aku juga mau bilang, “Jika kita belum mendapatkan sahabat yang baik, tetaplah jadi sahabat yang baik untuk orang lain”.
NULIS LAGI
Rencananya besok aku mau postingkan cerita-ceritaku di blogku. Makanya aku minta pendapat dulu dari teman kos mengenai ceritaku ini.
Ceng-ceng-ceng…….. menuju target pertama, “Kakak….. tolong baca isi blog aku donk, terus ntar kasih pendapat yach dimana kesalahannya”, begitulah kataku.
“Bla…..bla…..bla…..”, kulihat mulut kakak itu komat-kamit baca postingku , sementara aku mulai dag-dig-dug-der menanti hasil penilaian. Bisa dibayangin, aku ibarat menanti tanda pengumuman lulus UAN, eh tidak…. lebih parah lagi, ibarat menanti pukulan palu hakim dimeja hijau . Hahaha……. Lebay banget.
Aku mulai melihat ekspresi kebingungan dari kakak itu, akhirnya dia mulai bicara dan……………….. “Dek….. ceritanya kreatif, tapi terlalu panjang dek. Takutnya nanti orang bosan membacanya. Terus,,, lebih baik lagi ditambah dengan animasi yang berwarna, biar tambah lucu gitu,,, terus….. bla……..bla…….bla……. ”,panjang lah lagi dech nasehat kakak itu.
Sementara aku ??? Cuma bisa mendengarkan nasehatnya dengan wajah yang dimanis-maniskan. Padahal …………………. hhhhuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu,,,MAMA…… !!! Aku kecewa ……
Setelah puas berceramah, kakak itu menutup pidatonya dengan, “Ya udah dek, di edit saja lagi. Khey”, begitulah penutup ceramahnya sambil tersenyum.
Akhirnya…. Kembalilah aku ke habitatku,,, (maksudnya kekamarku) sambil berfikir-fikir lagi…. “Apa aku bisa nulis cerita lagi ? Huuuuuh….”
Setelah sampai di kamar, aku jadi berfikir positif lagi. Seharusnya aku berterimakasih pada kakak itu, sudah memberikan masukan. Yaaaach….. aku seharusnya tidak boleh patah semangat gini. Ini baru awal,,, WENI…… SEMANGAT !!! SEMANGAT !!!
Ceng-ceng-ceng…….. menuju target pertama, “Kakak….. tolong baca isi blog aku donk, terus ntar kasih pendapat yach dimana kesalahannya”, begitulah kataku.
“Bla…..bla…..bla…..”, kulihat mulut kakak itu komat-kamit baca postingku , sementara aku mulai dag-dig-dug-der menanti hasil penilaian. Bisa dibayangin, aku ibarat menanti tanda pengumuman lulus UAN, eh tidak…. lebih parah lagi, ibarat menanti pukulan palu hakim dimeja hijau . Hahaha……. Lebay banget.
Aku mulai melihat ekspresi kebingungan dari kakak itu, akhirnya dia mulai bicara dan……………….. “Dek….. ceritanya kreatif, tapi terlalu panjang dek. Takutnya nanti orang bosan membacanya. Terus,,, lebih baik lagi ditambah dengan animasi yang berwarna, biar tambah lucu gitu,,, terus….. bla……..bla…….bla……. ”,panjang lah lagi dech nasehat kakak itu.
Sementara aku ??? Cuma bisa mendengarkan nasehatnya dengan wajah yang dimanis-maniskan. Padahal …………………. hhhhuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu,,,MAMA…… !!! Aku kecewa ……
Setelah puas berceramah, kakak itu menutup pidatonya dengan, “Ya udah dek, di edit saja lagi. Khey”, begitulah penutup ceramahnya sambil tersenyum.
Akhirnya…. Kembalilah aku ke habitatku,,, (maksudnya kekamarku) sambil berfikir-fikir lagi…. “Apa aku bisa nulis cerita lagi ? Huuuuuh….”
Setelah sampai di kamar, aku jadi berfikir positif lagi. Seharusnya aku berterimakasih pada kakak itu, sudah memberikan masukan. Yaaaach….. aku seharusnya tidak boleh patah semangat gini. Ini baru awal,,, WENI…… SEMANGAT !!! SEMANGAT !!!
Minggu, 06 Desember 2009
POSTING PERTAMA
Assalamualaikum……
Alhamdulillah,,,akhirnya aku punya blog sendiri juga (senangnya). Setelah sekian lama bercita-cita untuk menciptakan blog sendiri, nah di semester tiga ini baru kesampaian. Sebenarnya udah sejak SMA dulu guru TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) aku mengajak berkenalan dengan dunia internet, mulai dari buat e-mail sendiri, tapi yach……emang aku orangnya cuek bebek banget !! (huuuu……)
Yaaaa…….aku tidak menghiraukan ajakan guru aku itu dan akhirnya………Penyesalan Selalau Datang di Kemudian Hari. Hehe
Nah…….. keinginan untuk membuat blog itu baru muncul sekarang karena,,,alasan pertama : aku tertarik dengan isi posting-posting temen ku di blognya. Namanya Putra, anak Medan. Postingnya itu sebagian besar ngakak abis….(menurut aku). Aku sering ketawa-ketawa sendiri baca postingnya. Setiap aku ke warnet selalu aku sempatin untuk buka blognya. Sampai-sampai teman-temanku sempat menilai aku dah gila. Tapi setelah mereka tau kalau aku ketawanya itu gara-gara baca blognya Putra, eh malah jadi lebih rumit lagi, mereka malah bilang kalau aku tuch suka sama Putra. Aduuuuuhhh……………. Plis dech….. Weni tuch bener-bener suka doank dengan isi blognya, bukan sama orangnya. “Harap di Garis Bawahi !!!”
Nah…. Alasan kedua kenapa aku jadi kepengin banget punya blog saat ini karena terinspirasi dari blognya Raditya Dika. Itu…..tu…. yang punya panggilan Kambing Jantan. Dia bilang kalau blog itu sama dengan diary, tapi bedanya ini letaknya di internet. Dia juga bilang bahwa di blog kita bisa bercerita tentang kejadian sehari-hari. Nah… ini nich yang buat aku semakin ingin untuk punya blog.
Tapi setelah punya blog aku jadi bingung harus nulis apa….. ?? WHAAAAAATTTT ??? Gak tau mau nulis apa ???? Walah-walah….. payah kamu Wen !!
Yaaaaaa……………..habisnya aku tuch gak punya bakat buat nulis-nulis cerita, aku tuch cuma punya bakat buat berceloteh, alias CE-RE-WET !! hahaha…... pengakuan itu emang lebih penting !!
Yaaaaa…… akhirnya tercipta dech tulisan pertamaku ini. Klo menurut aku gak penting banget dech buat cerita masalah ini,,,emang ada yang nanya ??? (huhu) tapi skedar promosi doank, boleh kan ??
Buat yang udah baca posting aku ini, Help me dunk….!! Kasih ide,,, atau kasih pendapat, sebaiknya Weni tuh mulai nulis apa, atau cerita apa ?? Gitu….. !! Yach….. yach….
Assalamualaikum……
Alhamdulillah,,,akhirnya aku punya blog sendiri juga (senangnya). Setelah sekian lama bercita-cita untuk menciptakan blog sendiri, nah di semester tiga ini baru kesampaian. Sebenarnya udah sejak SMA dulu guru TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) aku mengajak berkenalan dengan dunia internet, mulai dari buat e-mail sendiri, tapi yach……emang aku orangnya cuek bebek banget !! (huuuu……)
Yaaaa…….aku tidak menghiraukan ajakan guru aku itu dan akhirnya………Penyesalan Selalau Datang di Kemudian Hari. Hehe
Nah…….. keinginan untuk membuat blog itu baru muncul sekarang karena,,,alasan pertama : aku tertarik dengan isi posting-posting temen ku di blognya. Namanya Putra, anak Medan. Postingnya itu sebagian besar ngakak abis….(menurut aku). Aku sering ketawa-ketawa sendiri baca postingnya. Setiap aku ke warnet selalu aku sempatin untuk buka blognya. Sampai-sampai teman-temanku sempat menilai aku dah gila. Tapi setelah mereka tau kalau aku ketawanya itu gara-gara baca blognya Putra, eh malah jadi lebih rumit lagi, mereka malah bilang kalau aku tuch suka sama Putra. Aduuuuuhhh……………. Plis dech….. Weni tuch bener-bener suka doank dengan isi blognya, bukan sama orangnya. “Harap di Garis Bawahi !!!”
Nah…. Alasan kedua kenapa aku jadi kepengin banget punya blog saat ini karena terinspirasi dari blognya Raditya Dika. Itu…..tu…. yang punya panggilan Kambing Jantan. Dia bilang kalau blog itu sama dengan diary, tapi bedanya ini letaknya di internet. Dia juga bilang bahwa di blog kita bisa bercerita tentang kejadian sehari-hari. Nah… ini nich yang buat aku semakin ingin untuk punya blog.
Tapi setelah punya blog aku jadi bingung harus nulis apa….. ?? WHAAAAAATTTT ??? Gak tau mau nulis apa ???? Walah-walah….. payah kamu Wen !!
Yaaaaaa……………..habisnya aku tuch gak punya bakat buat nulis-nulis cerita, aku tuch cuma punya bakat buat berceloteh, alias CE-RE-WET !! hahaha…... pengakuan itu emang lebih penting !!
Yaaaaa…… akhirnya tercipta dech tulisan pertamaku ini. Klo menurut aku gak penting banget dech buat cerita masalah ini,,,emang ada yang nanya ??? (huhu) tapi skedar promosi doank, boleh kan ??
Buat yang udah baca posting aku ini, Help me dunk….!! Kasih ide,,, atau kasih pendapat, sebaiknya Weni tuh mulai nulis apa, atau cerita apa ?? Gitu….. !! Yach….. yach….
Selasa, 01 Desember 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
